Notification

×

Iklan

Iklan

PUJIAN

11/10/21 | Oktober 11, 2021 WIB Last Updated 2021-10-11T07:06:40Z

 


Oleh : Prof. Amir Santoso


MAJALAHCEO.CO.ID| JAKARTA - Sudah biasa seorang pemimpin atau pejabat itu dipuji orang. Yang memuji bisa orang sebangsa, boleh juga orang bangsa lain. Namanya juga persepsi, jadi tidak ada yang bisa melarang atau dilarang memuji.


Itu kan sama saja dengan orang mengkritik atau malahan menghujat seorang pemimpin atau pejabat. Mestinya tidak ada yang bisa melarang atau dilarang.  Hanya bedanya dengan pujian, dalam kenyataannya ada negara yang melarang kritikan malahan menjebloskan si pengeritik ke penjara sembari berteriak bahwa negara mereka adalah negara paling demokratis di dunia. Demokratis tapi para pengritik dipenjara. Lucu juga.


Pujian tentu membuat pendukung pemimpin yang dipuji jadi mekar cuping hidungnya. Memang aneh sih. Orang lain yang dipuji kok dirinya ikut bangga. Apalagi jika yang memuji adalah orang asing dan tokoh terkenal. Makin mekarlah hidung dan kupingnya. Lalu pendukungnya itu rame-rame kirim info di media sosial disertai berbagai tambahan puja puji.


Pujian terhadap seorang pemimpin apalagi dilontarkan oleh orang asing, perlu dicermati motif dan keakuratan konten pujiannya. Kita harus seksama mempertanyakan apa motif dia memuji? Mungkin dia memang tulus, atau ada fulus dibelakangnya. Tak tahulah. Lagian untuk apa mengkaji motif orang memuji?


Yang penting cermati saja konten pujiannya, benar, setengah benar, atau salah semua. Mestinya ya ada yang benar dan ada yang salah. Misalnya orang asing itu memuji seorang pemimpin bangsa lain sebagai tokoh paling demokratis yang perlu dicontoh oleh pemimpin lain.


Itu kan mudah melihatnya. Lihat saja apakah kebebasan individu dan kelompok di negara sang pemimpin itu terjamin atau tidak? Apakah sang pemimpin memenjarakan para pengeritiknya?


Kemudian juga lihat apakah fraksi -fraksi dalam Parlemen digiring dengan berbagai cara agar menjadi pendukung rezim sehingga checks and balances tidak berjalan?


Perlu juga dilihat bagaimana kehidupan pers. Apakah media seperti TV dan Suratkabar dibiarkan bebas untuk mengeritik atau ditekan dengan berbagai cara agar hanya memberitakan kepentingan rezim?


Bagaimana kehidupan ekonomi rakyat? Apakah rakyat kecil diuntungkan oleh kebijakan ekonomi pemerintah ataukah kebijakan tsb hanya menguntungkan segelintir pengusaha besar yang disebut konglomerat sehingga akhirnya mereka membentuk oligarki yang menguasai sebagian besar kekayaan negeri?


Semua pertanyaan seperti diatas perlu dijawab dengan jujur. Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut intinya adalah adanya kebebasan di negara tsb maka pujian yang dilontarkan terhadap pemimpin negara ybs patut diapresiasi sebagai sebuah penilaian yang benar sehingga kita perlu ikut berbangga.


Namun jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas justru memberikan kesan sedikitnya kebebasan, terkungkungnya oposisi, dikuasainya kekayaan ekonomi hanya oleh segelintir konglomerat dst, maka bolehlah kita mengatakan bahwa pujian itu hanyalah basa basi internasional yang mungkin ada udang dibalik batu. (Amir Santoso, Gurubesar FISIP UI, Rektor Universitas Jayabaya di Jakarta)

×
Berita Terbaru Update