Notification

×

Iklan

Iklan

Wibisono: Insiden hilangnya KRI Nangggala- 402 untuk evaluasi pengadaan Alutsista TNI-AL

27/04/21 | April 27, 2021 WIB Last Updated 2021-04-26T18:51:31Z

MAJALAH CEO | Jakarta, Hilang nya kapal selam TNI AL sudah hampir 4 hari, Keberadaan KRI Nanggala-402 hingga Sabtu (24/4/2021) pukul 03.00 WIB masih belum ditemukan.

Menurut keterangan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Yudo Margono, cadangan oksigen di kapal selam yang hilang kontak di perairan utara Bali sejak Rabu (21/4/2021) pukul 03.00 WIB hanya bertahan 72 jam.

"Apabila kondisi black out mampu 72 jam, kurang lebih 3 hari. Jadi saat kemarin hilang kontak jam 3, bisa sampai hari Sabtu jam 3, sehingga 72 jam. Mudah-mudahan segera ditemukan sehingga cadangan oksigen masih ada," ujar Yudo saat konferensi pers, Kamis (22/04/2021).

Menurut Pengamat militer dan Pertahanan Wibisono menyatakan keprihatinannya atas hilangnya kapal selam TNI-AL ini, KRI Nanggala-402 dibuat pada 1977 di HDW( Howaldtswerke Deutsche Werft) Jerman dan bergabung bersama jajaran TNI AL pada 1981, harusnya kapal ini pensiun, karena sudah terlalu tua dan menjadi evaluasi untuk mengadakan alutsista yang lebih modern.

"Dengan hilangnya KRI Nanggala -42 ini, Saya berharap Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan panglima TNI untuk segera mengaudit seluruh keberadaan alutsista yang di miliki TNI, karena banyak sekali alat perang kita sudah uzur dan tidak layak lagi di operasionalkan," ujar Wibisono keawak media di Jakarta Sabtu (24/04/2021)

Sedangkan Media asing banyak memberitakan hilangnya kapal selam KRI Nanggala-402 di perairan Bali pada saat latihan menembak sejak Rabu, 21 April 2021.

Salah satu media asal Amerika Serikat, The New York Times (NYT) menyebutkan Indonesia tak punya dana yang cukup sebagai negara yang memiliki ribuan pulau. NYT juga menyebutkan Indonesia tak memiliki dana memadai untuk menghadapi serangan dari kapal penangkap ikan asing.

"Saya juga menilai kita harus mempunyai anggaran yang cukup, karena Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, bahkan apabila kita harus menghadapi serangan reguler dari armada luar, sedangkan oleh armada penangkap ikan asing saja kita belum mampu menangkalnya sebagai penjaga ribuan pantai, semoga keberadaan kapal ini segera ditemukan dan semua kru kapal bisa selamat, " pungkas Wibisono. [red.dody]
×
Berita Terbaru Update